Selasa, 03 Juli 2012

Sejarah Pertambangan batubara di Sumatera Barat



Pada dasarnya sejarah awal prospek pertambangan di Sumbar ketika de Groet, ahli geologi Belanda, yang pada 1858 menemukan bahwa di sekitar Sungai Ombilin Sumatra Barat memiliki kandungan batubara. Penemuan De Groet kemudian ditindaklanjuti oleh Ir Willem Hendrik De Greve pada 1867. Penyelidikan yang lebih saksama oleh Ir Verbeck menghasilkan temuan kandungan batubara dengan kisaran mencapai puluhan juta, sehinga dimulailah penambangan di wilayah tersebut. Produksi pertambangan batubara dari Ombilin dimulai tahun 1892.
Penyidikan seksama juga dilakukan oleh Ir. R. DM. Verbeck. Hasil dari penyelidikan lapangan Sungai Durian dengan reserver 80.000.000 ton, lapangan perambah dengan reserver 20.000.000 ton, lapangan tanah hitam dengan reserver 205.600.000 ton.
Tebal lapisan masing-masing 1-10 meter derajat dan masing-masing 9 – 12 derajat dan masing-masing lapangan tersebut terdiri dari :
  1. Sungai Durian 3 lapisan (a, b, c)
  2. Sigalut 5 lapisan
  3. Tanah hitam 3 lapisan
  4. Perambahan 7 lapisan
  5. Sugar 3 lapisan
Diantara lapisan-lapisan tersebut setebal lebih kurang 30 meter terdapat lapisan batu pasir.
Setelah melalui beberapa penilaian pada tanggal 27 Juli 1888 dibuatlah Notaricle Acte pertama oleh E.L. Va Ronversy Asisten Residen Tanah Datar selaku Notaris, antara Handrik Yakobus Pelta Schemuring (Pemegang Con Esi) dengan Laras Silungkang Djaar Soetan Pamuncak (mewakili rakyat) untuk melakukan penambangan batu bara.
Didalam Notaricle Acte itu antara lain dicantumkan :
  1. Pihak rakyat tidak boleh menganggu bahkan akan membantu dan melindungi sebanyak-banyaknya pekerjaan pembangunan.
  2. Dan tidak akan melakukan penggalian pula walaupun secara primitif.
  3. Pihak pemegang consessi setiap tahun akan membayar/memberikan sebagai imbangannya berupa 10 persen keuntungan bersih tiap tahun kepada rakyat yang bersangkutan maksimal F 4.000,-
Pelabuhan Teluk Bayur dan jalan kereta api dibuka dan realisasi dari Notaricle Acte itu adalah explorasi/pekerjaan persiapan explotasi batu bara antara lain sebagai berikut :
  1. Menyiapkan pelabuhan Teluk Bayur (Emma Haven) mulai dikerjakan tahun 1888 dan selesai tahun 1893.
  2. Memasang jalan kereta api dari Teluk Bayur ke Padang Panjang ke Sawahlunto (sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan consessi pertambangan batu bara) dimulai tahun 1888 selesai tahun 1893.
Pembuatan Pelabuhan Teluk Bayur dan jalan kereta api dari Teluk Bayur ke Sawahlunto tersebut dikerjakan oleh Ir. J.V.Y. Zerman.
Jalan kereta api ini diperluas sehingga merupakan jaringan jalan kereta api yang akhirnya mengitari dari Sawahlunto terus ke Solok, Padang Panjang, Kayu Tanam, Lubuk Alung – Padang terus ke Teluk Bayur. Sedangkan jalan lain dari Muara Kalaban (4 km dari Sawahlunto) menyimpang ke Tanjung Ampalu terus ke Muaro Sijunjung. Selanjutnya di Padang Panjang jalur jalan Kereta Api ini menyimpang pula ke Bukittingggi terus ke Payakumbuh dan yang di Lubuk Alung menyimpang pula ke Pariaman terus ke Naras.
Serentetan dengan ini berdirilah Perusahaan Listrik, pabrik-pabrik dan kemudian perkebunan-perkebunan dan tambang lain di Sumbar. Demikian sistem buat empalsemen tambang, membuat lubang sumuran di Sawahlunto. Mendirikan Silo (bunker) di Teluk Bayur. Produksi pertama di mulai bulan Oktober 1892 sejumlah 48.000 ton untuk tahun itu. Adapun pekerja terdiri dari orang-oranng rantai dan konirak yang masing-masing mencapai jumlah 5.000 orang, kesemua bangsa kita juga pengerjaan dilakukan secara paksa oleh Belanda. Dan juga pendatang dari orang-orang Eropa dan Tionghoa.
Pada tahun 1930 Sawahlunto mencapai tingkat kemasyurannya dimana produksi mencapai 624.212 ton yang merupakan produksi tertinggi dan penduduk berjumlah lebih kurang 30.000 jiwa. Hal ini berlangsung sampai tahun 1938.
Dari tahun 1938 sudah mulai menurun disebabkan pekerja-pekerja tambang tersebut sedang mempersiapkan juga sebagai tenaga untuk menghadapi Perang Dunia II yang kemudian ke front tersebar ke pelosok Tanah Air.
Sekarang, Ombilin sudah tidak produktif tapi masih ada sebagian kecil rakyat sekitar mencari batu bara yang tersisa.
Maka lahirlah kota Sawahlunto seperti sekarang, dari kota Padang, Anda akan melihat kota mungil ini dikelilingi bukit. Setelah melalui jalanan menanjak kemudian jalanan turun, maka tampaklah Kota Tambang itu di bawah. Kota seluas sekitar 274 km2 ini dihuni sekitar 53 ribu penduduk.

0 komentar:

Poskan Komentar