Sejarah Pertambangan batubara di Sumatera Barat

Penyidikan seksama
juga dilakukan oleh Ir. R. DM. Verbeck. Hasil dari penyelidikan lapangan Sungai
Durian dengan reserver 80.000.000 ton, lapangan perambah dengan reserver
20.000.000 ton, lapangan tanah hitam dengan reserver 205.600.000 ton.
Tebal lapisan
masing-masing 1-10 meter derajat dan masing-masing 9 – 12 derajat dan
masing-masing lapangan tersebut terdiri dari :
- Sungai Durian 3 lapisan (a, b, c)
- Sigalut 5 lapisan
- Tanah hitam 3 lapisan
- Perambahan 7 lapisan
- Sugar 3 lapisan
Diantara
lapisan-lapisan tersebut setebal lebih kurang 30 meter terdapat lapisan batu
pasir.
Setelah melalui
beberapa penilaian pada tanggal 27 Juli 1888 dibuatlah Notaricle Acte pertama
oleh E.L. Va Ronversy Asisten Residen Tanah Datar selaku Notaris, antara
Handrik Yakobus Pelta Schemuring (Pemegang Con Esi) dengan Laras Silungkang
Djaar Soetan Pamuncak (mewakili rakyat) untuk melakukan penambangan batu bara.
Didalam Notaricle
Acte itu antara lain dicantumkan :
- Pihak rakyat tidak boleh menganggu bahkan akan membantu dan melindungi sebanyak-banyaknya pekerjaan pembangunan.
- Dan tidak akan melakukan penggalian pula walaupun secara primitif.
- Pihak pemegang consessi setiap tahun akan membayar/memberikan sebagai imbangannya berupa 10 persen keuntungan bersih tiap tahun kepada rakyat yang bersangkutan maksimal F 4.000,-
Pelabuhan Teluk Bayur
dan jalan kereta api dibuka dan realisasi dari Notaricle Acte itu adalah
explorasi/pekerjaan persiapan explotasi batu bara antara lain sebagai berikut :
- Menyiapkan pelabuhan Teluk Bayur (Emma Haven) mulai dikerjakan tahun 1888 dan selesai tahun 1893.
- Memasang jalan kereta api dari Teluk Bayur ke Padang Panjang ke Sawahlunto (sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan consessi pertambangan batu bara) dimulai tahun 1888 selesai tahun 1893.
Pembuatan Pelabuhan
Teluk Bayur dan jalan kereta api dari Teluk Bayur ke Sawahlunto tersebut
dikerjakan oleh Ir. J.V.Y. Zerman.
Jalan kereta api ini
diperluas sehingga merupakan jaringan jalan kereta api yang akhirnya mengitari
dari Sawahlunto terus ke Solok, Padang Panjang, Kayu Tanam, Lubuk Alung –
Padang terus ke Teluk Bayur. Sedangkan jalan lain dari Muara Kalaban (4 km dari
Sawahlunto) menyimpang ke Tanjung Ampalu terus ke Muaro Sijunjung. Selanjutnya
di Padang Panjang jalur jalan Kereta Api ini menyimpang pula ke Bukittingggi
terus ke Payakumbuh dan yang di Lubuk Alung menyimpang pula ke Pariaman terus
ke Naras.
Serentetan dengan ini
berdirilah Perusahaan Listrik, pabrik-pabrik dan kemudian perkebunan-perkebunan
dan tambang lain di Sumbar. Demikian sistem buat empalsemen tambang, membuat
lubang sumuran di Sawahlunto. Mendirikan Silo (bunker) di Teluk Bayur. Produksi
pertama di mulai bulan Oktober 1892 sejumlah 48.000 ton untuk tahun itu. Adapun
pekerja terdiri dari orang-oranng rantai dan konirak yang masing-masing
mencapai jumlah 5.000 orang, kesemua bangsa kita juga pengerjaan dilakukan
secara paksa oleh Belanda. Dan juga pendatang dari orang-orang Eropa dan
Tionghoa.
Pada tahun 1930
Sawahlunto mencapai tingkat kemasyurannya dimana produksi mencapai 624.212 ton
yang merupakan produksi tertinggi dan penduduk berjumlah lebih kurang 30.000
jiwa. Hal ini berlangsung sampai tahun 1938.
Dari tahun 1938 sudah
mulai menurun disebabkan pekerja-pekerja tambang tersebut sedang mempersiapkan
juga sebagai tenaga untuk menghadapi Perang Dunia II yang kemudian ke front
tersebar ke pelosok Tanah Air.
Sekarang, Ombilin
sudah tidak produktif tapi masih ada sebagian kecil rakyat sekitar mencari batu
bara yang tersisa.
Maka lahirlah kota
Sawahlunto seperti sekarang, dari kota Padang, Anda akan melihat kota mungil
ini dikelilingi bukit. Setelah melalui jalanan menanjak kemudian jalanan turun,
maka tampaklah Kota Tambang itu di bawah. Kota seluas sekitar 274 km2 ini
dihuni sekitar 53 ribu penduduk.
Tidak ada komentar: